Penanganan Anak Step

Selasa, 19 April 2011 sore tak jadi mengaji lagi, cause keponakanku yang imut dan lucu merintih-rintih sakit kepala dan tenggorokannya sakit. Lepas Ashar ia kejang-kejang dan membuat semua orang panik. (kejadian kedua kalinya).

Akhirnya pagi ni, Rabu 20 April 2011, jari jemariku tergerak tuk mencari informasi tentang penaganan anak step.

Penyebab step (pengamatan dan dari pengalaman saja lho) :
Suhu tubuh meningkat karena sakit, terutama jika terjadi peradangan. Batuk dan flu pun dapat menyebabkan step.

Gejala step :
1. Pada suhu tubuh baru 38oC, kejang sudah mulai terjadi. Pegang tangan putra/i terus menerus. Jika sesekali kejang (seperti terkejut), itulah tanda awal step.
2. Jika temperatur terus naik, biasanya pada tingkat 40oC pun kejang-kejang sudah nampak.
3. Kejang disertai mata membelalak (tidak berkedip).
4. Gigi tampak menggigit kuat.

Mencegah step :
1. Kenali penyebab step pada anak anda, misal flu. Jika tubuh mulai hangat, mulailah mengukur suhu tubuhnya dengan termometer.
2. Siapkan selalu di kotak obat anda obat-obatan yang diyakini cocok. Terutama penurun panas dan antibiotik. Jangan lupa alkohol 70% untuk kompres dan wash lap.
3. Jika suhu tubuh mendekati 38oC, dan penyakit dirasa sejenis dengan yang sudah-sudah, minumkan obat dengan dosis sesuai anjuran dokter (waktu periksa terakhir).
4. Jika minum obat pertama setelah magrib (jam 18.00 ), usahakan pukul 24.00 diberikan obat kedua. Namun jangan lupa memberikan air gula sebelum minum obat kedua.
5. Diberi minum kopi (sewaktu kondisi anak sehat), walau 1 sendok atau 2 sendok makan sehari. Ingat biasanya yang step anak berumur 0- 5 tahun. Setelah masa itu terlewati, insyaallah relatif aman.
6. Pijat pada telapak kaki dan tangan, agar panas merata keseluruh tubuh dan suhu menurun. Kadangkala panas yang tinggi dikarenakan panas terpusat pada bagian tertentu (misal leher) karena radang.
7. Pada bagian kepala, berikan wash lap basah. Begitu juga pada bagian yang paling panas.

Mengatasi step :
1. Buka semua baju si sakit dan jendela rumah agar mendapat udara segar.
2. Jika perlu si sakit di letakkan di lantai.
3. Buka mulut (gigi?) dan masukkan sedok makan. Ini dimaksudkan agar gigi si sakit tidak menggigit lidahnya sendiri.
4. Oleskan dengan telapak tangan alkohol 70% ke seluruh tubuh kecuali muka. Kipas-kipas dengan kipas atau buku. Lakukan berulang-ulang kedua tindakan tadi.
5. Bila tidak tersedia alkohol, ambil handuk, celupkan ke air kamar mandi , peras sedikit, lalu lilitkan ke tubuh. Ulangi berulang-ulang.
6. Pada bagian yang paling panas (leher misalnya) beri wash lap basah.
7. Kalau suhu tubuh menurun dan tidak kejang lagi, secepatnya minumkan obat yang tersedia di kotak obat dengan dosis anjuran dokter.

Demikian beberapa pengalamanku mengatasi step. Yang perlu diingat, jangan sampai anak mengalami step berulang-ulang (lebih 2 kali). Sebab jika itu terjadi ada kalanya si anak daya pikirnya akan terganggu, walau beberapa kasus tidak berpengaruh.

Usahakan meghindari mengatasi step dengan mengambil sumsum tulang belakang. Hal ini berdasarkan pengalaman tetanggaku. Anaknya sering step akhirnya di bawa di Rumah Sakit di Surabaya. Opname. Menunggu diambil sumsum tulang belakangnya. Selama masa tunggu itulah keluarga pasien menjumpai pasien lain yang diambil sumsum tulang belakangnya ternyata lumpuh total. Akhirnya tetanggaku meminta pulang paksa dan dirawat sendiri dengan sering memberi minum kopi (memacu jantung). Alhamdulillah sehat sampai sekarang.

Mudah-mudah bermanfaat. Jika anda punya pengalaman lain harap bersedia memberi komentar agar dapat memberi alternatif pengatasan step yang lebih sempurna. Terima kasih atas kunjungan anda.

cara tradisional mengatasi step tapi cukup ampuh adalah dengan cara melumuri anak yang sedang step dengan parutan bawang merah dicampur dengan minyak kelapa, jangan lupa madu untuk menurunkan panas anak, selanjutnya bisa dibawa ke dokter aja, menghindari kemungkinan yang lebih parah

Saya memiliki 3 orang anak. Anak pertama sekarang sudah 7 tahun, anak kedua 3 tahun dan anak ketiga 1 tahun. Menurut saya, step terjadi karena secara genetika, anak kita memiliki sistim sirkulasi darah yang cukup cepat di daerah kepala. Sehingga saat suhu tubuh mulai naik, maka volume darah yang hangat mengalir ke bagian atas tubuh lebih banyak daripada ke bagian bawah. Akibatnya otak pun terpengaruh dan pada saatnya kejang atau step itu terjadi. Kebetulan istri saya juga seorang dokter dan dari riwayatnya memang keluarga istri saya (ipar-ipar) saat kecil dahulu (umur 0-5 tahun) memang semuanya pernah step. Namun jangan cemas, asalkan kita pernah melihat gejalanya. Saat anak mulai panas, berikan obat penurun panas sesegera mungkin dan segera turunkan suhu di kepala dengan kompres air hangat (jangan air dingin karena efeknya kurang baik). Buatlah agar suhu tubuh anak walaupun panas tapi bisa merata. Biasanya sebelum anak step, ujung kaki dan tangannya mulai turun suhunya. Segera gosok dengan penghangat seperti minyak kayu putih atau minyak telon sehingga kembali hangat. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter spesialis anak untuk membuat cadangan resep sebagai berikut:

1.Penurun panas dengan campuran Luminal (generik: phenol barbital). Ini bermanfaat untuk menurunkan ketegangan otot anak saat panas tubuh mulai naik.

2.Stesolid, yaitu obat cairan dalam tube yang penggunaannya secara suppo (lewat anus). Saat anak Anda mulai kejang, obat ini diberikan untuk menghentikan kejang atau step. Jika step sudah terjadi, jangan panik, terus kompres dan dinginkan kepala anak Anda dengan kompres yang lebih basah (hampir seperti dikeramasi), sehingga suhu di kepala bisa segera turun. Seandainya setelah sadar anak Anda mulai menggigil, hangatkan dengan selimut. Segera bawa ke klinik atau rumah sakit terdekat jika anak belum berhenti kejang selama lebih dari 2 menit. Jangan lupa berdoa dan terus dinginkan kepala anak Anda dengan kompres dan siraman air dan jangan sampai masuk ke telinga kiri/kanan. Selama ini terhitung sudah 10 kali kami mempraktekkan cara tersebut untuk menangani step pada anak pertama dan anak kedua kami dan mudah-mudahan putra kami yang ketiga tidak mengikuti jejak kedua kakak-kakanya. Saat anak berumur lebih dari 6 tahun, dipastikan sudah tidak akan step lagi karena sistim sirkulasi darah mengalami perubahan dari fasa balita. Semoga bermanfaat.

sy mau sharing juga, yg penting pas anak kita step kita jangan panik..langkah pertama baringkan posisi anak dalam posisi miring sambil tepuk2 punggungnya…insya Allah si anak segera sadar, setelah itu kompres dahi, ketiak, tengkuk dan bagian lain yg masih panas, ini juga pengalaman yg terjadi pada anak saya….semoga membantu….salam

From : wuluhanputro.blogspot.com

Saat duduk di depan lobi sebuah rumah sakit negeri di Denpasar, saya melihat seorang bapak dengan tergopoh gopoh menggendong anaknya menuju ke ruang UGD. Penasaran, saya beranikan diri menanyakan ke bapak itu apa yang terjadi dengan anaknya, dengan suara yang masih terengah engah bapak itu menceritakan bahwa anaknya terkena step.

Step atau Kejang Demam masih sangat umum terjadi pada anak anak. Menurut IDAI, kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun hampir 2 – 5%. Kejang merupakan hal yang menakutkan tetapi biasanya tidak membahayakan. Orang tua akan panik begitu mendapatkan anaknya menderita kejang demam.

Apa yang dimaksud dengan Kejang Demam?, Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.

Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
- Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana) : kejang menyeluruh yang berlangsung < 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
- Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks) : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).

Lalu apa yang membedakan kejang demam ini dengan epilepsi? Walaupun gejalanya sama yaitu kejang dan berulang, namun pada anak yang menderita epilepsi, episode kejang tidak disertai dengan demam.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:
- Usia < 15 bulan saat kejang demam pertama
- Riwayat kejang demam dalam keluarga
- Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
- Riwayat demam yang sering
- Kejang pertama adalah complex febrile seizure

Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif rendah, maka besar kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam. Risiko berulangnya kejang demam adalah 10% tanpa faktor risiko, 25% dengan 1 faktor risiko, 50% dengan 2 faktor risiko, dan dapat mencapai 100% dengan = 3 faktor risiko.

Sebenarnya, apa sih yang terjadi dalam tubuh saat anak mengalami kejang demam? Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% – 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik.

Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang. Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.

Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf. Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari otak.

Melihat paparan kejadian dalam tubuh diatas, saya tarik benang merah gejala yang bisa anda lihat saat anak mengalami Kejang Demam antara lain : anak mengalami demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).

Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.

Saat anak mengalami Kejang Demam, hal hal penting yang harus kita lakukan antara lain :

- Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.
- Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam
- Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut
- Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri.
- Hubungi dokter anak anda

Akhirnya timbul pertanyaan bagaimana cara mencegah agar anak tidak mengalami Kejang Demam, seperti yang saya tulis diatas kejang bisa terjadi jika suhu tubuh naik atau turun dengan cepat. Pada sebagian besar kasus, kejang terjadi tanpa terduga atau tidak dapat dicegah. Dulu digunakan obat anti kejang sebagai tindakan pencegahan pada anak-anak yang sering mengalami kejang demam, tetapi hal ini sekarang sudah jarang dilakukan.

Pada anak-anak yang cenderung mengalami kejang demam, pada saat mereka menderita demam bisa diberikan diazepam (baik yang melalui mulut maupun melalui rektal).

Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, perjalanan penyakitnya baik dan tidak menimbulkan kematian.

From : blogdokter.ner

Penanganan bila anak panas demam:

Peningkatan panas dapat terjadi karena kapasitas produksi panas lebih besar dari pengeluaran panas.Karena variasi suhu tubuh oleh berbagai kondisi yang mempengaruhinya menimbulkan perbedaan suhu yang sedemikian besar, maka disepakati bahwa demam adlh peningkatan suhu tubuh di atas 37,5 C (berdasarkan pengukuran lewat mulut ). normalnya 36-36,8 drjt C.

Peningkatan suhu tubuh sebagai bagian dari reaksi pertahanan tubuh terhadap infeksi, memberikan gambaran bahwa demam merupakan suatu keadaan yang menguntungkan sebagai tanda tubuh anak bereaksi secara normal untuk melawan kuman yang masuk ke dalam tubuhnya. nah bila anak panas:

# beri minum yg banyak, krn panas menyebabkan banyaknya cairan tubuh yg keluar, baik dr keringat maupun pipis dan jangan beri minuman berkafein seperti teh atau kopi krn justru akan memperbanyak cairan yg keluar, shg bisa dehidrasi.

# beri obat penurun panas (bila perlu), utk anak2 biasanya yg mengandung parasetamol atau acetaminophen dengan dosis 10-15 mg per kg BB setiap 6 atau 4 jam atau menurut petunjuk dari dokter.

# pakaikan baju yg simpel,JANGAN diselimuti atau di balut dgn baju hangat yg rapat, agar penguapan panas tubuhnya berjalan dgn lancar, selain itu dpt membuat anak tdk nyaman. ciptakan ruangan yg tdk pengap/panas dgn sirkulasi udara yg lancar. (Ac nyalakan saja dgn tkt suhu adem,tdk dingin,tdk panas)

# kompres dgn air hangat,JANGAN AIR DINGIN. pengompresan dilakukan pada kedua ketiak dan pangkal paha krn pd kedua t4 tsb terdapat pembuluh darah besar, jgn kompres di dahi krn tidak berguna/percuma, pd t4 tsb hanya terdpt tulang besar jd tdk akan berpengaruh. (kalo bunda pake botol kecil yg di isi air hangat,biar ga basah) tp kalo utk bayi krn ubun2nya msh terbuka sebaiknya kompres di ubun2nya.

# istirahat yg cukup agar daya tahan tubuhnya maksimal utk melawan infeksi/penyakitnya, selain itu peningkatan aktivitas akan meningkatkan panas tubuh yg lebih tinggi lg.

# bila anak tiba2 kedinginan berarti 5 atau beberapa menit kemudian akan megalami panas yg tinggi sekali. segera kompres kedua telapak tangan dan kakinya dgn air hangat, tapi tetap jgn diselimuti. begitu suhu tubuh naik langsung beri obat penurun panas. (skrg bunda selalu sedia obat penurun panas cepat, pake resep Dr sih, masukinnya melalui “maaf” anus,krn di anus trdpt banyak ujung2 pembuluh darah jd reaksinya cepat, itu kalo revo tiba2 panasnya langsung 39 drjat C, 5 s/d 10 mnt kemudian langsung turun panasnya).

Penanganan kejang demam:

kejang demam adalah kejang yang terjadi pada saat seorang bayi/ anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat dan tubuhnya mengalami kenaikan suhu yg tinggi. Hal ini dapat terjadi pada 2-5 % populasi anak. Umumnya kejang demam ini terjadi pada usia 6 bulan – 5 tahun tp ada jg dr yg bilang pada usia 6 bln – 4 thn.

Tidak ada nilai ambang suhu untuk dapat terjadinya kejang demam, krn pada setiap anak berbeda-beda,( revo pernah kejang di suhu 38,7 trus pernah jg di suhu 39, tp pernah jg uda smpe suhu 40 ga kejang, so kalo revo suhunya sudah 37,5 bunda langsung kasih penurun panas).

Selama anak mengalami kejang demam, ia dapat kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki, atau justru disertai dengan kekakuan tubuhnya. So Bila anak kejang:

# jangan batasi gerakan tubuhnya/ memegangi anak utk melawan kejangnya, longgarkan pakaiannya agar oksigen mudah masuk,(krn bila kejang berarti pasokan oksigen di otak berkurang) baringkan di tempat yang datar dengan posisi menyamping, bukan terlentang, untuk menghindari bahaya tersedak.

# Jangan meletakkan benda apapun dalam mulut si anak seperti sendok atau penggaris, karena justru benda tersebut dapat menyumbat jalan napas.

# Sebagian besar kejang berlangsung singkat, tapi jika kejang terus berlanjut selama 5/10 menit, anak harus segera dibawa ke RS. tapi ada jg yang menyatakan bahwa penanganan lebih baik dilakukan secepat mungkin tanpa menyatakan batasan menit.

# Setelah kejang berakhir anak perlu dibawa menemui dokter untuk meneliti sumber demam, terutama jika ada kekakuan leher, muntah-muntah yang berat, atau anak terus tampak lemas. apalagi bila baru pertama kali kejang.

# bila sudah pernah kejang sebelumnya, sebaiknya selalu sediakan stesolit ( diazepam 0.5 mg/ kg BB) tp ini cuma utk anak usia 1 th ke atas yg berat badannya 12 kg lebih (atau sesuai petunjuk dr). begitu kejang atau baru kaget2, langsung masukin lewat “maaf” anus. kalo bunda selain stesolit,jg sedia puyer anti kejang dr dokternya Revo, jd begitu revo panas tinggi langsung bunda kasih puyer tsb utk mencegah kejang.

# jadi bila anak sudah pernah kejang, jangan sampe anak itu mengalami panas tinggi, usahakan cepat turunkan panasnya agar tdk “kecolongan”, krn panas yg sangat tinggi akan mengakibatkan kejang.

Nah buat para bunda & papa yg punya keluarga dgn riwayat kejang demam sebaiknya hati2. krn kemungkinan anaknya akan mengalami kejang jg. kalo revo memang, dr bundana maupun papana di keluarganya ada yg pernah kejang demam, tapi asal penanganannya tepat, utk kejang yg jenisnya ” Simple febrile seizures” kayak revo,(kejang yg tdk lama) kata Dr-nya sih tdk apa-apa, tdk akan berpengaruh dgn kecerdasan otaknya. kecuali bila kejangnya lama, bisa merusak jutaan sel-sel di otak.

From : dyadro.multiply.com

 

KEJANG  DEMAM/step

 Beberapa hari yang lalu saya mendapat telfon dari kakak. Dia mengabarkan ponakanku kena step. Dari suaranya, saya menduga dia sangat khawatir dengan kondisi ponakanku itu. Apakah dia akan mengalami gangguan kognitif dan mental nantinya?

Saya jadi ingat, pernah teman menanyakan. ”Lo pernah step ga waktu kecil?” Apakah anda mengalami hal yang sama dengan saya? Atau apabila  anak, adik, ponakan Anda demam, kemudian ia mengalami step/kejang, apa yang anda pikirkan? Apakah anda mengkhawatirkan kecerdasannya? Memang benar, seringkali anak yang mengalami step/kejang dikaitan dengan gangguan perkembangan kognitif, dan mental.  Mari kita tinjau lebih dalam, benarkah semua hal di atas?

Jika anda salah satu dari sekian banyak orang yang berpikiran seperti itu maka anda salah total. Apakah step itu? Step atau yang dikenal dalam bahasa kesehatan sebagai kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba2 yang mengakibatkan kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak & Gallo).  Kejang ini hanya bersififat sementara dan tidak menyebabkan gangguan perkembangan kognitif dan mental anak. Kejang demam merupakan serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan demam.

Step terjadi pada kenaikan suhu tubuh lebih dari 380C atau hipertemi mendadak pada infeksi bakteri atau virus, pada umumnya menyerang anak di bawah 5 tahun.  Angka kejadian pada anak laki2 lebih sering dibanding anak perempuan.  Kejang tersebut ada yang sederhana dan ada pula yang kompleks. Kejang sederhana, terjadi menyeluruh dan berlangsug kurang dari 15 menit serta tidak berulang. Kejang kompleks terjadi lokal (pada bagian tubuh tertentu), biasanya lebih dari 15 menit dan berulang dalam waktu yang singkat.

Banyak hal yang dapat mengakibatkan kejang ini. Ada yang karena infeksi, trauma kepala, kelainan bawaan, toksik, kelainan metabolisme dan lainnya. Tanda awalnya adalah terjadi kenaikan suhu mendada pada anak. Kejang terjadi segera saat suhu anak mulai normal.

 ±  Apa saja tanda dan gejala Step?

Demam secara tiba2, kehilangan kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki bahkan sampai kekuatan tubuh, pingsan selama 30 detik sampai 5 menit, kontraksi otot menyeluruh sekitar 15 detik, lidah atau pipi tergigit, gigi atau rahang terkatup rapat, apneu/henti nafas, sampai kulit kebiruan. Setelah kejang biasanya anak sadar beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau lebih, terjadi amnesia, sakit kepala, linglung (sementara)

 ±  Prevensi/pencegahan

Jaga suhu anak dengan memberi obat penurun panas, kompres hangat dan memberikan lingkungan yang nyaman

 ±  Bila ada anak step apa yang harus kita lakukan?

-          Tenang, ini merupakan prisip utama dalam menangani kasus2 kegawatan.

-          Baringkan anak di tempat yang datar dengan posisi menyamping, jangan telentang. Posisi menyamping dapat mencegah lidah anak jatuh kebelakang atau tergigit sehing ga  tidak perlu memasukkan sendok ke mulut anak. Kebiasaan di masyarakat ketika anak kejang adalah memasukkan sendok ke dalam mulut anak

-          Skali lagi jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut anak, seperti sendok

-          Jangan memegang anak untuk melawan kejang

-          Sebagian besar kejang berlangsung singkat dan tidak memerlukan penanganan khusus, namun apabila kejang berlanjut sebaiknya dibawa ke pelayanan kesehatan

 Step tidak merusak persyarafan dan tidak menggaggu perkembangan kognitif maupun mental anak. Ingat, salah satu penyebab (umumnya) adalah infeksi bakteri, so keep clean! Jagalah kebersihan anak…. sering cuci tangan anak merupakan salah satu tindakan yang bijak

From : bestifyna04.multiply.com

PENANGANAN UMUM KEJANG DEMAM

  • Jangan panik berlebihan.
  • Jangan masukkan sendok atau jari ke mulut.
  • Jangan memberi obat melalui mulut saat anak masih kejang atau masih belum sadar.
  • Letakkan anak dalam posisi miring, buka celananya kemudian berikan diazepam melalui anus dengan dosis yang Sama.
  • Bila masih kejang, diazepam dapat diulang lagi setelah 5 menit, sambil membawa anak ke rumah sakit.
  • Bila anak demam tinggi, usahakan untuk menurunkan suhu tubuh anak anda dengan mengkompres tubuh anak dengan air hangat atau air biasa, lalu berikan penurun demam bila ia sudah sadar.
  • Jangan mencoba untuk menahan gerakan-gerakan anak pada saat kejang, berusahalah untuk tetap tenang.
  • Kejang akan berhenti dengan sendirinya. Amati berapa lama anak anda kejang.
  • Ukurlah suhu tubuh anak anda pada saat itu, hal ini bisa menjadi pegangan anda untuk mengetahui pada suhu tubuh berapa anak anda akan mengalami kejang.
  • Hubungi petugas kesehatan jika kejang berlangsung lebih lama dari 10 menit.
  • Jika kejang telah berhenti, segeralah ke dokter untuk mencari penyebab dan mengobati demam.

From : feverclinic.wordpress.com

 

Kejang, baik yang disertai demam atau tidak, bisa berdampak fatal. Itulah sebabnya, setelah memberi pertolongan pertama, bawa segera si kecil ke rumah sakit.

Kejang sendiri terjadi akibat adanya kontraksi otot yang berlebihan dalam waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan. Salah satu penyebab terjadinya kejang demam yaitu tingginya suhu badan anak. Timbulnya kejang yang disertai demam ini diistilahkan sebagai kejang demam (convalsio febrillis) atau stuip/step.

Masalahnya, toleransi masing-masing anak terhadap demam sangatlah bervariasi. Pada anak yang toleransinya rendah, maka demam pada suhu tubuh 38 C pun sudah bisa membuatnya kejang. Sementara pada anak-anak yang toleransinya normal, kejang baru dialami jika suhu badan sudah mencapai 39 C atau lebih.

SEGERA BAWA KE DOKTER

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan agar orang tua sesegera mungkin memberi pertolongan pertama begitu tahu si kecil mengalami kejang demam.

Setelah itu,jangan tunggu waktu lagi bawa segera si kecil ke dokter atau klinik terdekat. Jangan terpaku hanya pada lamanya kejang, entah cuma beberapa detik atau sekian menit. Dengan begitu, si kecil akan mendapat penanganan lebih lanjut yang tepat dari para ahli. Biasanya dokter juga akan memberikan obat penurun panas, sekaligus membekali obat untuk mengatasi kejang dan antikejang. “Sebagai pertolongan pertama, tak usah membawanya langsung ke rumah sakit lengkap yang letaknya relatif lebih jauh karena bisa-bisa si kecil mendapat risiko yang lebih berbahaya akibat lambat mendapat pertolongan pertama.”

Selain itu, jika kejang demam tidak segera mendapat penanganan semestinya, si kecil pun terancam bakal terkena retardasi mental. Pasalnya, kejang demam bisa menyebabkan rusaknya sel-sel otak anak. Jadi, kalau kejang itu berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka kemungkinan sel-sel yang rusak pun akan semakin banyak. Bukan tidak mungkin tingkat kecerdasan anak akan menurun drastis dan tidak bisa lagi berkembang secara optimal.

Bahkan beberapa kasus kejang demam bisa menyebabkan epilepsi pada anak. Yang tak kalah penting, begitu anaknya terkena kejang demam, orang tua pun mesti ekstra hati-hati. Soalnya, dalam setahun pertama setelah kejadian, kejang serupa atau malah yang lebih hebat berpeluang terulang kembali.

Untuk mengantisipasinya, sediakanlah obat penurun panas dan obat antikejang yang telah diresep-kan dokter anak. Meski begitu, orang tua jangan kelewat khawatir. Karena dengan penanganan yang tepat dan segera, kejang demam yang berlangsung beberapa saat umumnya tak menimbulkan gangguan fungsi otak.

CIRI-CIRI KEJANG

Tentu saja dalam hal ini orang tua harus bisa membaca ciri-ciri seorang anak yang terkena kejang demam. Di antaranya:

* kedua kaki dan tangan kaku disertai gerakan-gerakan kejut yang kuat dan kejang-kejang selama 5 menit . bola mata berbalik ke atas

* gigi terkatup

* muntah

* tak jarang si anak berhenti napas sejenak.

* pada beberapa kasus tidak bisa mengontrol pengeluaran buang air besar/kecil.

* pada kasus berat, si kecil kerap tak sadarkan diri. Adapun intensitas waktu kejang juga sangat bervariasi, dari beberapa detik sampai puluhan menit.

TIPS ATASI KEJANG DEMAM

Berikut beberapa penjelasan tentang kejang dan demam pada anak: . Suhu tubuh normal anak berkisar antara 36-37 C. Si kecil dinyatakan demam bila temperatur tubuhnya yang diukur melalui mulut/telinga menunjukkan angka 37,8 C; melalui rektum 38 C, dan 37,2 C melalui ketiak.Sebelum semakin tinggi, segera beri obat penurun panas. .

Orang tua jangan begitu gampang mengatakan seorang anak demam atau tidak hanya dengan menempelkan punggung tangannya di dahi anak. Cara ini jelas tidak akurat karena amat dipengaruhi oleh kepekaan dan suhu badan orang tua sendiri.

Termometer air raksa diyakini merupakan cara yang paling tepat untuk mengukur suhu tubuh. Pengukuran suhu tubuh akan lebih akurat bila termometer tersebut ditempatkan di rongga mulut atau rektum/anus dibanding ketiak.

Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah.

Jangan gunakan alkohol atau air dingin untuk menurunkan suhu tubuh anak yang sedang demam. Penggunaan alkohol amat berpeluang menyebabkan iritasi pada mata dan intoksikasi/keracunan. Lebih aman gunakan kompres air biasa yang diletakkan di dahi, ketiak, dan lipatan paha. Kompres ini bertujuan menurunkan suhu di permukaan tubuh. Turunnya suhu ini diharapkan terjadi karena panas tubuh digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres. Penurunan suhu yang drastis justru tidak disarankan. Jangan coba-coba memberikan aspirin atau jenis obat lainnya yang mengandung salisilat karena diduga dapat memicu sindroma Reye, sejenis penyakit yang tergolong langka dan mempengaruhi kerja lever, darah, dan otak.

Setelah anak benar-benar sadar, bujuklah ia untuk banyak minum dan makan makanan berkuah atau buah-buahan yang banyak mengandung air. Bisa berupa jus, susu, teh, dan minuman lainnya. Dengan demikian, cairan tubuh yang menguap akibat suhu tinggi bisa cepat tergantikan. . Jangan selimuti si kecil dengan selimut tebal. Selimut dan pakaian tebal dan tertutup justru akan meningkatkan suhu tubuh dan menghalangi penguapan. Pakaian ketat atau yang mengikat terlalu kencang sebaiknya ditanggalkan saja.

YANG BISA DILAKUKAN ORANG TUA
Segera beri obat penurun panas begitu suhu tubuh anak melewati angka 37,5 C.

Kompres dengan lap hangat (yang suhunya kurang lebih sama dengan suhu badan si kecil). Jangan kompres dengan air dingin, karena dapat menyebabkan “korsleting”/benturan kuat di otak antara suhu panas tubuh si kecil dengan kompres dingin tadi.
Agar si kecil tidak cedera, pindahkan benda-benda keras atau tajam yang berada dekat anak. Tak perlu menahan mulut si kecil agar tetap terbuka dengan mengganjal/menggigitkan sesuatu di antara giginya. Miringkan posisi tubuh si kecil agar penderita tidak menelan cairan muntahnya sendiri yang bisa mengganggu pernapasannya.
Jangan memberi minuman/makanan segera setelah berhenti kejang karena hanya akan berpeluang membuat anak tersedak.

KEJANG TANPA DEMAM
Penyebabnya bermacam-macam. Yang penting, jangan sampai berulang dan berlangsung lama karena dapat merusak sel-sel otak. Menurut dr. Merry C. Siboro, Sp.A, dari RS Metro Medical Centre, Jakarta, kejang adalah kontraksi otot yang berlebihan di luar kehendak. “Kejang-kejang kemungkinan bisa terjadi bila suhu badan bayi atau anak terlalu tinggi atau bisa juga tanpa disertai demam.” Kejang yang disertai demam disebut kejang demam (convalsio febrilis). Biasanya disebabkan adanya suatu penyakit dalam tubuh si kecil. Misal, demam tinggi akibat infeksi saluran pernapasan, radang telinga, infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih. Sedangkan kejang tanpa demam adalah kejang yang tak disertai demam. Juga banyak terjadi pada anak-anak.

BISA DIALAMI SEMUA ANAK
Kondisi kejang umum tampak dari badan yang menjadi kaku dan bola mata berbalik ke atas. Kondisi ini biasa disebut step atau kejang toniklonik (kejet-kejet). Kejang tanpa demam bisa dialami semua anak balita. Bahkan juga bayi baru lahir. “Umumnya karena ada kelainan bawaan yang mengganggu fungsi otak sehingga dapat menyebabkan timbulnya bangkitan kejang. Bisa juga akibat trauma lahir, adanya infeksi-infeksi pada saat-saat terakhir lahir, proses kelahiran yang susah sehingga sebagian oksigen tak masuk ke otak, atau menderita kepala besar atau kecil,” tutur Merry.

Bayi yang lahir dengan berat di atas 4.000 gram bisa juga berisiko mengalami kejang tanpa demam pada saat melalui masa neonatusnya (28 hari sesudah dilahirkan). “Ini biasanya disebabkan adanya riwayat ibu menderita diabetes, sehingga anaknya mengalami hipoglemi (ganggguan gula dalam darah, Red.). Dengan demikian, enggak demam pun, dia bisa kejang.” Selanjutnya, si bayi dengan gangguan hipoglemik akibat kencing manis ini akan rentan terhadap kejang. “Contohnya, telat diberi minum saja, dia langsung kejang.” Uniknya, tambah Merry, bayi prematur justru jarang sekali menderita kejang. “Penderitanya lebih banyak bayi yang cukup bulan. Diduga karena sistem sarafnya sudah sempurna sehingga lebih rentan dibandingkan bayi prematur yang memang belum sempurna.”

JANGAN SAMPAI TERULANG
Penting diperhatikan, bila anak pernah kejang, ada kemungkinan dia bisa kejang lagi. Padahal, kejang tak boleh dibiarkan berulang selain juga tak boleh berlangsung lama atau lebih dari 5 menit. Bila terjadi dapat membahayakan anak. Masalahnya, setiap kali kejang anak mengalami asfiksi atau kekurangan oksigen dalam darah. “Setiap menit, kejang bisa mengakibatkan kerusakan sel-sel pada otak, karena terhambatnya aliran oksigen ke otak. Bayangkan apa yang terjadi bila anak bolak-balik kejang, berapa ribu sel yang bakal rusak? Tak adanya aliran oksigen ke otak ini bisa menyebakan sebagian sel-sel otak mengalami kerusakan.

”Kerusakan di otak ini dapat menyebabkan epilepsi, kelumpuhan, bahkan retardasi mental. Oleh karenanya, pada anak yang pernah kejang atau berbakat kejang, hendaknya orang tua terus memantau agar jangan terjadi kejang berulang.

DIMONITOR TIGA TAHUN
Risiko berulangnya kejang pada anak-anak, umumnya tergantung pada jenis kejang serta ada atau tidaknya kelainan neurologis berdasarkan hasil EEG (elektroensefalografi). Di antara bayi yang mengalami kejang neonatal (tanpa demam), akan terjadi bangkitan tanpa demam dalam 7 tahun pertama pada 25% kasus. Tujuh puluh lima persen di antara bayi yang mengalami bangkitan kejang tersebut akan menjadi epilepsi.”Harus diusahakan, dalam tiga tahun sesudah kejang pertama, jangan ada kejang berikut,” bilang Merry. Dokter akan mengawasi selama tiga tahun sesudahnya, setelah kejang pertama datang. Bila dalam tiga tahun itu tak ada kejang lagi, meski cuma dalam beberapa detik, maka untuk selanjutnya anak tersebut mempunyai prognosis baik. Artinya, tak terjadi kelainan neurologis dan mental.

Tapi, bagaimana jika setelah diobati, ternyata di tahun kedua terjadi kejang lagi? “Hitungannya harus dimulai lagi dari tahun pertama. ”Pokoknya, jangka waktu yang dianggap aman untuk monitoring adalah selama tiga tahun setelah kejang. Jadi, selama tiga tahun setelah kejang pertama itu, si anak harus bebas kejang. Anak-anak yang bebas kejang selama tiga tahun itu dan sesudahnya, umumnya akan baik dan sembuh. Kecuali pada anak-anak yang memang sejak lahir sudah memiliki kelainan bawaan, semisal kepala kecil (mikrosefali) atau kepala besar (makrosefali), serta jika ada tumor di otak.

RAGAM PENYEBAB

“Kejang tanpa demam bisa berasal dari kelainan di otak, bukan berasal dari otak, atau faktor keturunan,” kata Merry yang lalu menjabarkannya satu per satu di bawah ini. * Kelainan neurologis Setiap penyakit atau kelainan yang mengganggu fungsi otak bisa menimbulkan bangkitan kejang. Contoh, akibat trauma lahir, trauma kepala, tumor otak, radang otak, perdarahan di otak, atau kekurangan oksigen dalam jaringan otak (hipoksia).* Bukan neurologis Bisa disebabkan gangguan elektrolit darah akibat muntah dan diare, gula darah rendah akibat sakit yang lama, kurang asupan makanan, kejang lama yang disebabkan epilepsi, gangguan metabolisme, gangguan peredaran darah, keracunan obat/zat kimia, alergi dan cacat bawaan.

Faktor keturunan Kejang akibat penyakit lain seperti epilepsi biasanya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kejang demam sama. Orang tua yang pernah mengalami kejang sewaktu kecil sebaiknya waspada karena anaknya berisiko tinggi mengalami kejang yang sama.

WASPADAI DI BAWAH 6 BULAN
Orang tua harus waspada bila anak sering kejang tanpa demam, terutama di bawah usia 6 bulan, “Karena kemungkinannya untuk menderita epilepsi besar,” kata Merry. Masalahnya, kejang pada anak di bawah 6 bulan, terutama pada masa neonatal itu bersifat khas. “Bukan hanya seperti toniklonik yang selama ini kita kenal, tapi juga dalam bentuk gerakan-gerakan lain. Misal, matanya juling ke atas lalu bergerak-gerak, bibirnya kedutan atau tangannya seperti tremor. Dokter biasanya waspada, tapi kalau kejangnya terjadi di rumah, biasanya jarang ibu yang ngeh.” Itulah sebabnya, orang tua harus memperhatikan betul kondisi bayinya.

MENOLONG ANAK KEJANG
Jangan panik, segera longgarkan pakaiannya dan lepas atau buang semua yang menghambat saluran pernapasannya. “Jadi kalau sedang makan tiba-tiba anak kejang, atau ada sesuatu di mulutnya saat kejang, segera keluarkan,” tutur Merry.

Miringkan tubuh anak karena umumnya anak yang sedang kejang mengeluarkan cairan-cairan dari mulutnya. “Ini sebetulnya air liur yang banyak jumlahnya karena saraf yang mengatur kelenjar air liur tak terkontrol lagi. Kalau sedang kejang, kan, saraf pusatnya terganggu. Bukan cuma air liur, air mata pun bisa keluar.” Guna memiringkan tubuh adalah supaya cairan-cairan ini langsung keluar, tidak menetap di mulut yang malah berisiko menyumbat saluran napas dan memperparah keadaan.

Jangan mudah percaya bahwa meminumkan kopi pada anak yang sedang kejang bisa langsung menghentikan kejang tersebut.
“Secara medis, kopi tak berguna untuk mengatasi kejang. Kopi justru dapat menyebabkan tersumbatnya pernapasan bila diberikan saat anak mengalami kejang, yang malah bisa menyebabkan kematian.”
Segera bawa anak ke rumah sakit terdekat, jangan sampai otak kelamaan tak mendapat oksigen. “Usahakan lama kejang tak lebih dari tiga menit. Siapkan obat antikejang yang disarankan dokter bila anak memang pernah kejang atau punya riwayat kejang.”

From : amillavtr.wordpress.com

Apakah anak kejang-demam perlu dirawat di rumah sakit ?

Pada umumnya anak kejang-demam tidak memerlukan perawatan di rumah sakit apabila orang tua dapat cepat dan tidak panik mengatasi sendiri dirumah. Apabila perlu dapat mengundang dokter terdekat. Waktu penanganan yang cepat sangat penting untuk menghindari komplikasi kelainan pada syaraf pusat dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang tua. Apabila serangan kejang-demam berlangsung lama dan berulang-ulang maka dianjurkan untuk membawanya ke rumah sakit dimana kemungkinan adanya penyakit lain ( radang selaput otak, dll. )

Referensi : Handbook of Pediatrics
Henry K. Silver cs

Saat menghadapi si kecil yang sedang kejang demam, sedapat mungkin cobalah bersikap tenang. Sikap panik hanya akan membuat kita tak tahu harus berbuat apa yang mungkin saja akan membuat penderitaan anak tambah parah.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s